Review Film Si Doel the Movie 2

Kembalinya Doel terjebak dalam pilihan antara Sarah atau Zaenab di tahun 2010-an ini.

Dibandingkan untuk menyusun sebuah trilogi, bagi saya alasan terlogis dibuatnya Si Doel the Movie 2 adalah karena kesuksesan Si Doel the Movie tahun lalu. Pasalnya film tersebut berhasil mengumpulkan 1.757.653 penonton. Memanfaatkan momen libur Lebaran untuk melanjutkan kisah Doel sepulangnya dari Belanda, akankah film ini sesukses film sebelumnya?

Premis film ini adalah apa yang telah terjadi pada film pertama. Pulang dari Belanda, Doel (Rano Karno) membawa oleh-oleh plus dokumen dari Sarah (Cornelia Agatha) untuk Doel memproses perceraian mereka. Kerisauan Zaenab (Maudy Koesnaedi) di film pertama terjawab oleh pengakuan Doel pada Zaenab dan Maknyak (Aminah Cendrakasih) bahwa dirinya bertemu Sarah dan anaknya, Dul (Rey Bong) di Belanda. Sementara itu Dul segera pergi berlibur ke Jakarta seorang diri dan minta dijemput ayahnya. Namun nyatanya Dul pergi ke Jakarta ditemani Sarah, yang datang ke rumah keluarga Doel untuk bertemu dengan Maknyak dan meminta maaf. Harunya pertemuan Maknyak dan Sarah setelah 14 tahun, juga Maknyak dan Dul untuk pertama kalinya, bersamaan dengan kegundahan Zaenab yang mendengar kedatangan Sarah dan Dul.

Dalam konsep trilogi Si Doel the Movie, film ini memang dikhususkan untuk bercerita tentang Zaenab setelah film sebelumnya diniatkan bercerita tentang Sarah. Tokoh Zaenab pula lah yang sepanjang film perasaannya paling diaduk-aduk, paling dibuat gundah dan literally berdarah. Namun kita tetap dapat mengikuti kisah pemeran lainnya termasuk Dul yang saat di Belanda berencana untuk pulang ke Jakarta bersama temannya sesama WNI. Bagian terbaik pada film ini, sekaligus inti dari ceritanya terletak pada akhir film ketika Sarah kembali menginjakkan kaki di rumah Doel. Itulah awal dari adegan-adegan berikutnya yang penonton harapkan akan menjadi adegan tersedih dan termenyayat hati dalam trilogi Si Doel ini. Apalagi karakter Sarah dan Zaenab kembali dipertemukan dalam satu scene setelah bertahun-tahun tak saling jumpa. Selain itu, film kedua ini juga kembali menghadirkan ibunya Zaenab dan Munaroh yang absen pada film pertama. Film sudah cukup berhasil memberikan fan service, apalagi berkat menayangkan beberapa adegan flashback serial TV-nya yang makin membuat bernostalgia. Terlebih lagi film tetap berhasil membuat tertawa karena ulah Mandra, apalagi saat bertengkar dengan Atun.

Pada zamannya, Mandra dan Atun adalah kombinasi pengundang tawa ketika sedang berdebat.

Common mistake film kedua dari sebuah trilogi adalah film tersebut yang berakhir begitu saja dan gagal menjalankan cerita sebaik film pertama. Film ini jelas terjebak dalam sindrom tersebut karena hampir tidak memberikan plot baru dalam cerita Si Doel yang sudah berjalan sejak tahun 90-an. Sadar diri untuk menyesuaikan dengan keadaan masa kini, film pun sempat mencoba beradaptasi dengan memberikan premis tertariknya Mandra menjadi driver ojek online. Premis lain seperti ibunya Zaenab yang ingin kawin lagi dan tawaran kerja Koh Ahong untuk Doel pun disisipkan pada film. Namun semuanya hanya seperti angin lalu karena di akhir film tidak dibahas lagi. Preman Pensiun, yang sama-sama berawal dari cerita serial TV tampak menyajikan cerita layar lebar yang lebih baik walaupun sama-sama memiliki premis yang “hanya lewat”. Akhirnya film ini masih merasa dirinya adalah serial TV yang berjalan berepisode-episode dan memiliki banyak premis dalam satu season-nya, bukannya sebuah film bioskop yang fokus pada satu inti cerita.

Back to square one. Istilah itulah yang cocok untuk menggambarkan kondisi Doel pada akhir film. Film ini sukses mengembalikan Doel pada posisi harus memilih antara Sarah dan Zaenab, lagi. Bertahun-tahun serial Si Doel membagi penggemarnya dalam kubu Tim Sarah dan Tim Zaenab sejak Doel masih bujangan. Kini, shipping team yang sama kembali dielu-elukan setamatnya film ini. Hampir semua penonton menaruh harapan pada film ketiganya nanti, yang harus mengakhiri perkara pilihan Doel selama bertahun-tahun, yang sudah berumur dua generasi. Karena tidak mungkin Doel masih harus dibuat bimbang hingga zaman berikutnya, saat para pemeran utamanya sudah menjadi kakek-nenek.

Ajaibnya, nilai akhir saya untuk film ini sesuai dengan nilai yang saya ekspektasikan saat sebelum menontonnya. Bulat 6 dari 10 untuk film ini.

Advertisements

Review Film Kuntilanak 2

Kuntilanak yang sekarang bukanlah Kuntilanak yang dulu.

Film Kuntilanak berhasil menjadi film horor yang benar-benar dapat dinikmati bersama keluarga karena pada akhirnya berhasil mengajarkan pentingnya kebersamaan. Ditambah lagi, kelima anak-anak yang menjadi tokoh sentral pada film ini sukses memberikan sentuhan penetral kengerian dari sosok kuntilanak. Pada film lanjutannya, yang masih berkisah tentang kelima anak yang sama, akankah menjadi film yang lebih menyeramkan?

Dinda (Sandrina Michelle) dan keempat saudaranya, Kresna, Miko, Panji, dan Ambar berhasil selamat dari teror kuntilanak pada film sebelumnya. Mereka pun praktis menjadi anak-anak yang paling tahu tentang kuntilanak dan percaya pada makhluk halus lainnya. Bu Karmila (Karina Suwandi), yang fotonya sudah diperlihatkan pada scene awal dari film, datang ke panti dan mengaku sebagai ibu kandung dari Dinda. Dinda yang ingin segera tinggal bersama ibu kandungnya pun diizinkan Tante Donna (Nena Rosier) pergi ke rumah Karmila ditemani Julia (Susan Sameh), Edwin (Maxime Bouttier), dan adik-adiknya. Sesampainya di rumah Karmila yang berdiri di tengah hutan angker, anak-anak yang ikut menetap diganggu oleh sepasang hantu kembar, sosok kuntilanak pun kembali membayangi mereka. Melanjutkan cerita yang sudah jelas memberi petunjuk siapakah sosok paling berbahaya pada film, film pun berlanjut meneror Dinda dan keluarganya. Dinda pun kembali harus mengalahkan sesosok kuntilanak dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.

Film ini pun datang dengan premis yang membuat geleng-geleng kepala. Kenapa di era Industri 4.0 masih ada yang meminta ke Kuntilanak?

Kira-kira 10 menit awal menonton film ini, saya sudah mengumpulkan cukup banyak kelemahan dari film ini. Adanya pergantian dua tokoh dewasa, Julia dan Edwin, pula menambah pusing latar anak-anak panti asuhan yang sudah dibangun di film sebelumnya. Membuat yang sudah menonton film sebelumnya bertanya, “Kemana Lydia? Langsung kabur setelah kejadian di film pertama?” Adegan awal film yang menceritakan kelima pemeran anak di taman bermain pun termasuk adegan yang batal untuk membuat kaget dan meninggalkan ketegangan yang tidak perlu. Saya kira awal film ini akan dibuat seperti pada Us karena sudah diawali latar yang sangat mirip, ternyata tidak. Terlebih lagi, dalam waktu yang cukup cepat kita seakan sudah diberi petunjuk yang jelas akan di manakah, atau siapakah sosok kuntilanak yang harus dihadapi sejak awal film. Ternyata easy plot tersebut tidak praktis menghilangkan unsur horor selama sejam kedepan. Pada trailer-nya pun sudah jelas ditunjukkan bahwa teror utama dari film akan terjadi di rumah Karmila. Namun terungkapnya sang antagonis sebelum pertengahan film tidak lantas mengakhiri cerita. Tentang bagaimana kita bisa selamat dari sang antagonis adalah premis ketegangan berikutnya. Berkat cerita “pengungkapan” rumah Karmila dan kedok Karmila itu sendiri lah film ini tetap menegangkan hingga akhir.

Apresiasi tertinggi untuk film ini diberikan kepada tim efek visual. Pada film ini, aspek visual memang tampak digarap lebih niat dibanding pada film sebelumnya. Efek transisi Karmila menjadi kuntilanak, dan penggambaran hutan tempat sarang kuntilanak berada adalah salah dua dari hasil pekerjaan yang lebih baik ini. Karina Suwandi, sebagai Karmila dan Kuntilanak sekaligus, adalah pemeran terbaik film dan alasan mengapa film ini lebih baik secara keseluruhan. Tentu pula, yang membuat kita ingat bahwa dirinya pernah memainkan peran sejenis dalam Sebelum Iblis Menjemput. Hal favorit selain dari efek visualnya adalah jumpscare-nya. Dalam beberapa kesempatan, ternyata film ini berhasil menyajikan unexpected jumpscare yang sukses membuat merinding.

Dari segi cerita, film tampak memberikan kemungkinan alasan atas “bakat” yang dimiliki Dinda sejak film pertama. Film pun turut menambahkan variasi akan jenis kuntilanak yang difilmkan. Ya, kuntilanak di film yang sekarang membutuhkan cara yang berbeda untuk ditaklukkan, yang makin membuat penonton pusing mengapa harus ada sosok kuntilanak yang “berbeda”. Hingga akhir film, film ini pun terbilang meninggalkan cukup banyak plot hole dan juga unnecessary horror. Sepertinya sang sutradara masih berprinsip “tambahkan hantu sebanyak-banyaknya” pada film horor yang ia buat. Saya pun sempat dibuat pusing oleh peran hantu kembar yang dilibatkan di sini, apakah hanya sebagai sign dari kuntilanak, ataukah untuk ikut menyeret korbannya ke alam kuntilanak?

Ketika tahu film Kuntilanak (2018) memiliki sekuel, ekspektasi saya berkata bahwa sekuelnya akan lebih buruk. Ternyata film ini justru lebih baik walaupun tetap dikelilingi kekurangan yang saya sebut sebelumnya. Nilai saya untuk film ini adalah 6.5 dari 10. Andaikan menjadi film horor yang lebih efektif dan konsisten, maka bukan tidak mungkin film ini dapat menjadi sebaik Sebelum Iblis Menjemput.

Review Film Ghost Writer

Film komedi yang memuat karakter hantu, makanya dikatakan sebagai komedi-horor.

Mendengar genre horror comedy, maka film terkini yang langsung teringat oleh saya adalah Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur. Walaupun film tersebut ditargetkan sebagai film horor, kenyataannya film tersebut juga memiliki unsur komedi yang cukup dominan, ditambah drama yang makin memperkaya perasaan pada film tersebut. Kini Bene Dion Rajagukguk merilis sebuah film yang sudah di-state bergenre komedi horor dan menjadi debutnya sebagai sutradara. Apakah perpaduan genre ini berhasil menjadi tontonan yang menghibur sekaligus menakuti?

Pada film ini diceritakan Naya (Tatjana Saphira) yang hanya tinggal bersama adiknya, Darto (Endy Arfian). Mereka baru pindah ke sebuah rumah yang cukup besar dan disegani oleh para tetangganya. Naya tergambarkan sebagai pribadi yang mandiri dan idealis, termasuk dalam memilih sekolah untuk adiknya. Ia menargetkan supaya Darto dapat mendaftar di sekolah yang bagus dan mahal sementara tabungannya pas-pasan. Naya sendiri adalah penulis novel yang royaltinya kian menipis. Suatu hari Naya menemukan sebuah diary tua, didalamnya menceritakan kisah sedih dari pemiliknya. Pada saat itu juga gangguan mistis mulai mengganggu Naya dan Darto. Saat merasakan keberadaan dari Galih (Ge Pamungkas), hantu pemilik diary yang ditemukan, Naya malah meminta izin supaya kisah hidupnya dijadikan cerita untuk novel barunya. Galih pun setuju asalkan tidak ada dramatisasi. Konflik utama pada film pun datang ketika penerbit ingin Naya merevisi novelnya menjadi lebih dramatis. Di saat yang bersamaan, muncul pula arwah Bening (Asmara Abigail, yang membuktikan dirinya lebih cocok menjadi peran yang menyeramkan dan sedikit bicara, tidak seperti di Sekte), adik Galih yang hendak mencelakai Naya dan Darto dan memaksa supaya novel tersebut batal diterbitkan. Film pun berlanjut untuk memenuhi kebutuhan Naya dan menggenapkan urusan Galih dan Bening yang belum selesai.

Memiliki unsur horor, film ini tidak akan sampai membuat kita takut tidur sendirian atau pergi ke kamar kecil pada malam hari. Bahkan film ini lebih cocok disebut sebagai ghost movie dibandingkan horror movie karena memiliki tokoh hantu yang manusiawi. Seperti pada kartun Casper, setiap film hendak menakut-nakuti tidak jarang berakhir dengan suasana yang mengundang tawa. Ketika film berniat menakut-nakuti melalui Galih atau Bening pun, horor yang disajikan terbilang kurang menegangkan. Namun hal tersebut bukanlah kekurangan yang mengganggu karena kehadiran tokoh hantu pada film ini memang bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membangun cerita bernuansa drama komedi. Kehadiran sosok hantu untuk ditertawakan pun didukung oleh dialog Arie Kriting dan Muhadkly Acho, kedua tokoh yang berhasil menjadi show stealer ketika mengobrol mengenai hantu secara jenaka. Sepanjang film, kedua tokoh hantu pun hanya sukses menakuti Darto (dan temannya) yang digambarkan terlalu penakut, tidak seperti kakaknya yang malah ingin berkomunikasi dengan Galih ketika diteror pertama kali.

Apa yang bikin orang jatuh hati sama setan? Akhlaknya mungkin?

Mengetahui naskah film ini ditulis oleh Ernest Prakasa, kita pun langsung dapat mengekspektasikan penyelesaian cerita yang berpola seperti film-film Ernest lainnya. Dan ya, film ini pun berakhir dengan sajian hangat berpola sama seperti pada Milly & Mamet misal. Film diberikan penyelesaian bahagia yang merupakan alternatif dari tujuan Naya dan adiknya di sepanjang film, yang mungkin lagi-lagi membuat penonton berkata “Kenapa gak gitu aja dari awal?”. Perselisihan antara orang tua dan anak yang dikarenakan adanya anak kesayangan, yang memicu unfinished business Galih dan Bening pun diselesaikan dengan baik di akhir cerita. Walaupun demikian, alasan Galih mengizinkan kisah hidupnya dijadikan novel tidak dipaparkan dengan jelas.

Setelah menulis naskah komedi untuk beberapa episode Cek Toko Sebelah the Series, Bene kini layak mendapat acungan jempol untuk film perdananya. Saya pun memberikan nilai 7 dari 10 untuk varian baru dari produk box office milik Ernest ini.

Review Film Hit and Run

Film ini merupakan contoh yang baik dalam menyajikan adegan laga dan menggunakan aktor penarik perhatian sekaligus.

Kehadiran Yayan Ruhian dan Joe Taslim pada film ini, yang merupakan reuni mereka berdua setelah The Raid menjadi daya tarik utama akan film laga berbalut komedi ini. Setelah beradu peran dalam The Raid, keduanya segera go international. Apakah kini keduanya berhasil menyajikan tontonan laga yang dapat dinikmati? Akankah kombinasi genre action comedy ini berhasil?

Judul Hit & Run diambil dari reality show aksi kepolisian yang dibawakan Tegar Saputra (Joe Taslim) pada film ini. Tegar sendiri adalah polisi khusus yang sangat ambisius dalam memberantas narkoba. Di sepanjang film, Tegar mendapatkan misi untuk menangkap Coki (Yayan Ruhian), bos gembong narkoba yang baru membebaskan diri dari penjara dibantu rekan-rekannya. Tegar pun dibantu oleh Liow (Chandra Liow), penipu yang dianggap mengetahui keberadaan Coki. Selama mencari keberadaan Coki, Tegar menyelamatkan Meisa (Tatjana Saphira), penyanyi dangdut dari kasus penodongan di minimarket, yang kemudian menjadi kekasihnya. Ia dan Liow pun kemudian ditemani oleh Jefri (Jefri Nichol), remaja labil yang terpaksa meninggalkan kekasihnya.

Setiap tokoh efektif dalam menjalankan fungsinya masing-masing dan memiliki benang merah atas penghujung cerita, termasuk Meisa dan Jefri yang semula saya kira hanya sebagai pemanis film ini saja. Film tampak berhasil dalam membangun hubungan sebab akibat dari apa-apa yang dilakukan oleh para tokoh. Secara tak terduga, karakter kunci pada film ini adalah Mila (Nadya Arina, yang berpenampilan berbeda dari perannya dalam Pocong: the Origin), adik Tegar yang sakit keras dan hilang ingatan. Mila pun menjadi motivasi Tegar untuk membawakan Hit & Run dan memberantas narkoba. Motivasi juga adalah kunci mengapa Liow dan Jefri lanjut membantu Tegar pada babak terakhir film. Film ini pun sedikit mengangkat fenomena selebriti yang harus stick pada karakter tertentu di depan masyarakat meskipun berbeda dengan kepribadian aslinya.

Jika unsur komedi pada film cukup berhasil berkat kekonyolan Chandra Liow dan kealayan Jefri Nichol, makan unsur action-nya pun berhasil lebih unggul berkat aksi Joe Taslim dan Yayan Ruhian. Di pertengahan film, Yayan Ruhian akan mengingatkan kita pada aksi bar fight-nya dalam The Raid 2, yang kemudian membuat kita mengekspektasikan aksi yang lebih menegangkan hingga akhir film. Ekspektasi tersebut dijawab berbeda dengan tim koreografi dari film ini. Saya tidak begitu memperhatikan sudah berapa judul film action lokal yang sudah dirilis tahun ini, tetapi saya jamin film inilah yang memiliki battle scene yang paling dapat dinikmati. Termasuk dalam final battle pada film, di mana aksi yang disajikan melibatkan otot dan otak sekaligus.

Remember The Raid 2 already?

Jika bertanya mengenai kelemahan terbesar film ini, bukanlah sisipan komedi pada beberapa adegan yang menunda ketegangan (saat bertarung dengan penjahat di minimarket misal), tetapi pada akhir dari film ini. Para pahlawan kita pada akhir cerita memang berhasil melakukan “pengungkapan kebenaran” yang lebih mudah dan final battle dari film pun selesai disajikan. Namun, dialog setelahnya, yang mengungkapkan penjahat sebenarnya pada film malah dieksekusi dengan terlalu sederhana. Padahal pada titik ini cerita dapat dibuat kembali menegangkan dan diberikan resolusi yang tidak mudah, bukan adegan “asal plot twist tersampaikan”. Tentang bagaimana film ini berakhir pun, penulis naskah memilih akhir yang terlalu baik.

Ekspektasi saya pada film hasil kerjasama lima rumah produksi ini tidak terlalu tinggi. Ketika baru menonton trailer-nya, saya memberi nilai 6 dari 10 karena pesimis akan kombinasi genre action dan komedi ini. Terlebih lagi, standar film laga yang baik bagi saya adalah jika action dalam film tersebut sebaik atau lebih baik dari The Raid 2. Namun nilai saya untuk film ini setelah menontonnya adalah 6.5 dari 10. Andaikan film mengemas adegan pengungkapan kebenaran dan resolusi dengan sedikit lebih rumit, saya dapat menaikkan nilai saya hingga angka 8.

Review Film Hanum dan Rangga (2018)

Film tahun lalu terakhir yang akan saya ulas pada kesempatan kali ini adalah Hanum & Rangga. Sebenarnya judul lengkap untuk film ini adalah Hanum & Rangga: Faith & the City, namun masyarakat lebih mudah menyebut film ini sebagai Hanum & Rangga saja. Kabarnya pula pada libur Lebaran kali ini, film ini akan ditayangkan di salah satu TV swasta.

Film korban para buzzer politik Indonesia di tahun 2018

Pada bulan November lalu, film ini termasuk film Indonesia yang menuai kontroversi. Pasalnya, film ini dibuat berdasarkan pengalaman dari Hanum Rais, putra dari Amien Rais dan dokter yang sangat berkaitan dengan kasus hoax Ratna Sarumpaet. Pada masa tayangnya pun film ini memasuki layar lebar bersamaan dengan A Man Called Ahok dan semakin memicu cyber war kedua kubu politik Indonesia. Alhasil film ini menjadi korban dari para buzzer yang langsung memberikan rating sangat rendah untuk film ini. Padahal cerita pada film ini tidak berhubungan sama sekali dengan perpolitikan di Indonesia dan justru memiliki niat baik dalam membagikan pengalaman Hanum dan suami saat tinggal di New York. Sialnya, ketika segala perbincangan di Indonesia sedang marak-maraknya dikaitkan dengan politik, dan pemilik cerita pada film ini berada di kubu yang sedang diserang, film ini tidak banyak diulas murni berdasarkan ceritanya. Ulasan kali ini pun akan murni membahas film ini dari segi ide cerita tanpa menyinggung hal-hal berbau politik.

Semula saya mengira film ini adalah kelanjutan langsung dari Bulan Terbelah di Langit Amerika karena trailer film ini menyinggung pertanyaan yang pernah dibahas pada kedua film tersebut, “Apakah dunia akan menjadi tempat yang lebih baik tanpa Islam?” Jika benar demikian, maka film ini merupakan film yang tidak perlu ada karena pertanyaan tersebut sudah cukup terjawab dalam film dan novel yang bersangkutan. Namun perkiraan saya salah, film ini diadaptasi dari novel Hanum yang lain, yakni Faith and the City. Penyematan “Hanum & Rangga” pada judul film ini seolah menegaskan bahwa film ini adalah bagian dari “Hanum Universe”, yang bagi saya tidak perlu dan membuat film ini makin disinggung ke masalah politik.

Film ini menceritakan Hanum (Acha Septriasa) yang sudah memiliki reputasi positif di New York berkat artikel yang ia tulis di Bulan Terbelah di Langit Amerika dan mendapatkan tawaran magang bersama Andy Cooper (Arifin Putra), idolanya pada saat itu. Rangga (Rio Dewanto) pun harus mengalah dengan menunda kepulangan mereka dan tetap tinggal di New York. Pekerjaan baru Hanum mengubahnya menjadi wanita karir yang jarang mmeberikan waktunya untuk suami. Andy yang menjadi bos Hanum pun diketahui sangat menuhankan rating dan menganggap pemberitaan dan acara tentang Islam adalah sumber rating yang sangat seksi. Secara bergantian, kedua premis inilah yang dihadapi Hanum secara bergantian.

Film ini tampak berhasil dalam memberikan kritik atas media masa kini di mana rating adalah sesuatu yang harus dicapai ibarat nilai A saat di bangku kuliah. Kritik tersebut sukses dideskripsikan melalui Andy yang diperankan Arifin Putra yang juga sudah terbiasa mendapatkan peran bad boy. Baginya rating tinggi adalah kunci kesuksesan, dan sentimen mengenai Islam adalah alat untuk mencapai Tuhan baginya itu. Maka ekspektasi dirinya, yang tergambar pada film adalah kesedihan keluarga dari korban perang di Timur Tengah dan trauma warga New York pasca 9/11, yang harus dicapai dengan menghalalkan segala cara. Namun karakter dan prinsip Andy ini dapat diimbangi kreativitas Hanum dalam membuat acara bereksperimen sosial tentang warga Muslim di New York, yang tidak harus dibawakan termehek-mehek.

Berdasarkan ceritanya lagi, jika diperhatikan secara detil film ini memiliki tiga kekurangan utama. Pertama, adanya bumbu drama rumah tangga yang merusak. Jika niat film ini adalah menceritakan kehidupan Hanum sebagai istri dan reporter sekaligus, maka porsi cerita untuk permasalahan rumah tangganya sudah terlalu banyak. Bagi Hanum yang digambarkan sebagai wanita yang taat dan cerdas, beberapa konflik pada film sejatinya tidak perlu terjadi, contohnya kecemburuannya akan Azima (Titi Kamal). Kedua, beberapa bagian film yang dibuat kurang realistis. Saya paham jika film (dan novel) ini diangkat dari kisah nyata dan memiliki bumbu fiksi untuk dramatisasi seperti Laskar Pelangi. Namun, ketika menonton film ini saya langsung bertanya “Apakah Hanum pada saat di kantornya benar-benar berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia?”, “Benarkah Hanum bertemu Andy Cooper, pimpinan Global New York TV (GNTV) keturunan Indonesia?”, atau “Apakah stasiun TV seperti GNTV benar-benar ada, walaupun jika GNTV merupakan nama samaran untuk stasiun TV yang sebenarnya?” Dan yang lebih menggelitik adalah, apakah acara Hanum pada saat itu benar-benar ditonton 20 juta orang dalam 2 jam? Sangat hiperbola mengingat pada saat itu Youtube belum se-common sekarang. Hal ini berkaitan dengan kekurangan terakhir pada film, yakni konsistensi latar waktu. Dikisahkan kejadian di film ini adalah 2 tahun setelah tragedi 9/11, tahun 2003, tetapi teknologi yang digunakan Hanum seperti ponsel dan Youtube terlalu mutakhir di masa itu.

Secara penokohan pula, walaupun film ini bukan film utama dalam “Hanum Universe”, film tetap tampak membangun ulang chemistry Hanum dan Rangga misal, dan branding secara keseluruhan. Itulah risiko dari adanya pergantian pemeran untuk tokoh Rangga dan Azima. Bagi saya hal ini sangat disayangkan mengingat jajaran pemain Bulan Terbelah di Langit Amerika tidak dapat bereuni di film yang dapat dibilang kelanjutannya ini.

Singkatnya, film ini merupakan film yang berhasil mengkritik para penggiat media modern dan akan jauh lebih baik jika setiap detil pada film dibuat lebih realistis. Nilai saya untuk film ini adalah 5 dari 10. Nilai ini murni berdasarkan cerita yang ingin disampaikan oleh film, tanpa sentimen politik apapun. Penilaian saya pun akan berubah andaikan saya sudah membaca novel aslinya karena akan melibatkan banyak perbandingan apakah novel dan film sudah cukup sesuai?

Melalui ulasan untuk film ini pula, saya berharap semoga tidak ada lagi film Indonesia yang tidak mendapatkan apresiasi yang sesuai dengan kualitas dari film itu sendiri, apalagi dikaitkan dengan preferensi politik penontonnya. Karena saya yakin setiap orang yang mengerjakan film ini tidak pernah memikirkan urusan politik saat sedang melaksanakan passion-nya. Apabila ingin mengkritisi suatu film, ungkapkanlah berdasarkan cerita, efek audio visual, atau kualitas para bintangnya dalam beradu peran. Jika ingin menilai suatu film di luar aspek-aspek tersebut, apalagi tidak ikut menontonnya, sebaiknya tidak usah ikut memberi rating di situs-situs kumpulan ulasan film.

Review Film Si Doel the Movie (2018)

Film tahun lalu berikutnya yang akan diulas adalah Si Doel the Movie. Jika Hongkong Kasarung ditayangkan sebagai film Lebaran pada tahun lalu, bisa jadi film ini juga akan ditayangkan di libur Lebaran tahun ini. Kelanjutan dari film ini pun akan tayang mulai besok di bioskop-bioskop seluruh Indonesia, juga memanfaatkan momen Idul Fitri di tahun ini.

Sejatinya film ini hanya memindahkan kisah cinta segitiga Doel dari Jakarta ke Belanda.

Pada film ini, dikisahkan Doel (Rano Karno) yang telah menikah dengan Zaenab (Maudy Koesnaedi) dan sedang mempersiapkan diri untuk pergi ke Belanda ditemani oleh Mandra (Mandra). Kepergian Doel ini atas permintaan Hans (Adam Jagwani) untuk membawa barang-barang pesanannya yang akan ia jual di sebuah pameran budaya. Ternyata bukan hanya Hans yang menanti kedatangan Doel di Belanda, tetapi juga Sarah (Cornelia Agatha) yang sudah lama meninggalkan Doel tanpa kabar. Sementara itu di Jakarta, Zaenab yang baru tahu bahwa Hans dan Sarah memiliki hubungan saudara, sangat khawatir apabila Doel menemui Sarah di Belanda. Doel dan Sarah yang bertemu pun akhirnya bertukar kabar atas keadaan keluarga masing-masing, termasuk Abdul/Dul (Rey Bong), anak Doel dan Sarah yang ternyata kini tinggal bersama Sarah. Di saat Doel bimbang menentukan sikap setelah kembali bertemu dengan Sarah, Sarah pun menyesal atas perbuatannya meninggalkan Doel sekeluarga di masa lalu.

Serial Si Doel Anak Sekolahan adalah tayangan yang terkenal sepanjang masa karena episode-episodenya yang sering ditayangkan ulang di salah satu TV swasta. Bagi yang mengikuti episodenya sejak musim awal, film ini adalah tayangan pengobat rasa rindu akan keluarga Doel dan cinta segitiganya yang tak kunjung usai. Film berhasil mempertahankan unsur khas dari serial yang sudah ada sejak tahun 1990-an ini. Terbukti dengan menghadirkan semua pemeran utama yang masih hidup pada serial aslinya juga cuplikan dialog Babe Sabeni (Benyamin Sueb) yang hanya diperdengarkan sambil menayangkan rumah keluarga Doel di masa kini. Bahkan Aminah Cendrakasih yang sudah tidak dapat melihat lagi karena penyakit yang dideritanya tetap memerankan Mak Nyak dan tetap memiliki dialog walau hanya terbaring di tempat tidur. Karakter setiap tokoh pada film pun tidak dikembangkan lebih lanjut alias mempertahankan karakter masing-masing seperti pada serial aslinya.

Inti cerita dari film ini adalah bertemunya kembali Doel dan Sarah yang sudah lama berpisah, dan terjadi di Belanda bukan di Jakarta. Tanpa memberikan character twist, film ini mengembalikan posisi Doel pada kondisi bimbang karena Doel tidak ingin menyakiti Sarah ataupun Zaenab. Terlebih lagi kehadiran Dul yang menambahkan bumbu konflik pada film, di mana ia tampak tidak senang melihat ayahnya datang. Tayangan Si Doel juga khas dengan unsur komedi yang ditunjukkan oleh Mandra, Suti Karno, dan pemeran jenaka lainnya. Pada film ini pun karakter Mandra tidak luput menjadi pengundang tawa atas karakter dan tingkah lakunya sejak terbang ke Belanda.

Mandra kedinginan di pesawat saja sudah berhasil membuat tertawa.

Film diakhiri dengan Doel dan Mandra yang hendak kembali ke Jakarta, dan meninggalkan sikap Doel atas Sarah yang masih belum pasti. Konklusi dari film ini tampaknya disimpan untuk kelanjutan cerita Si Doel yang sudah direncanakan akan menjadi sebuah trilogi. Walaupun demikian, Si Doel the Movie tetap berhasil menjadi versi film yang konsisten dan pengobat rindu para penggemar serial aslinya. Nilai saya untuk film ini pun adalah 7.5 dari 10.

Sequel dari film ini, Si Doel the Movie 2 akan tayang mulai besok. Secara statistik, film pertamanya berhasil mengumpulkan 1.757.653 penonton. Akankah kelanjutannya berhasil menarik jumlah penonton yang lebih banyak? Mengingat film ini pun bersaing dengan empat film nasional lainnya di masa libur Lebaran tahun ini.

Review Film Hongkong Kasarung (2018)

Sejak Pokemon Detective Pikachu, saya memang belum pernah menonton film lagi di bioskop dan memilih untuk menunggu film-film Indonesia yang akan tayang pada masa libur Idul Fitri nanti. Selagi menunggu kelima film tersebut, mari kita ulas beberapa film Indonesia yang mungkin relevan dengan masa libur Idul Fitri tahun lalu dan tahun ini. Film pertama yang saya pilih untuk diulas adalah Hongkong Kasarung. Untuk film nasional lainnya, akan dibahas pada dua post lainnya setelah ini.

Poster seolah meletakkan Rizky Febian sebagai pemeran utama, padahal hanya berkameo sebagai musisi jalanan

Film ini menceritakan Sule (Sule) yang hendak bekerja ke luar negeri karena kekasihnya, Iis (Selvi Kitty) direbut lelaki (Uus) yang baru pulang dari Malaysia. Ibunya (Yati Surachman) pun menyerahkan uang hasil penjualan sawah ke Sule sehingga dirinya dapat pergi ke Malaysia ditemani pamannya (Sas Wijanarko). Sialnya, sang paman malah membawa Sule ke Hongkong dan memanfaatkan momen tersebut untuk bertamasya. Sule pun ia tinggalkan di Hongkong. Kesialan Sule berlanjut saat ia harus berurusan dengan geng mafia yang menculik Aline (Pamela Bowie) yang merupakan anak pengusaha keturunan Indonesia. Kesialan yang dilalui Sule senantiasa dibarengi dengan kehokiannya seperti bertemu dengan teman lamanya yang asli Indonesia juga, dan batal dihajar oleh geng yang menculik Aline. Roda nasib Sule yang cepat berganti ini berlanjut hingga Sule pulang ke desanya, termasuk saat Iis sudah putus dari pacarnya. Ya, secara garis besar film ini menceritakan Sule yang sial lalu beruntung secara bergantian hingga akhir film. Moralnya, ketika kita merasa sedang tidak beruntung, kita harus tetap bersikap baik dan tulus karena kebaikan kita akan membuahkan keberuntungan yang tidak terduga di kemudian hari.

Mang Saswi di film ini mempertahankan karakter fraudster-nya yang sudah khas dibawakannya di salah satu acara talkshow di TV.

Film rasa sitkom TV ini berhasil mengangkat fenomena penduduk desa yang ingin menjadi TKI demi meningkatkan status sosial dirinya dan keluarganya. Film ini pada dasarnya adalah film komedi, tetapi cukup banyak memiliki unsur drama di dalamnya. Memiliki unsur laga yang cukup, film pun semakin menjadi drama yang menegangkan yang sempat membuat kita lupa bahwa seharusnya kita sedang senang dan tertawa ketika menonton film ini. Unsur komedi yang muncul pun banyak berasal dari pemeran komediannya yang mengundang tawa secara natural. Sebagai contoh, kita semua paham bahwa seorang Sule kadang tidak perlu berdialog saat hendak melawak.

Apa yang membuat film ini kurang dramatis dibandingkan film layar lebar lainnya adalah beberapa plot cerita yang diberikan resolusi yang terlalu sederhana, dan plot-plot tersebutlah yang berpengaruh terhadap roda nasib Sule di sepanjang film. Contohnya, Sule yang batal dihantam para mafia karena alasan kekeluargaan (Sule pernah menolong ibu si ketua geng). Plot kehokian Sule ini di sisi lain membuat beberapa adegan yang menegangkan menjadi antiklimaks. Namun itu dapat dimaklumi karena tujuan dari film ini adalah mengundang tawa, bukan membuat tegang penonton.

Film yang tahun lalu sempat tayang di TV saat libur Idul Fitri ini pada dasarnya memang film yang sederhana. Penonton tidak dibuat harus berpikir keras untuk mengikuti cerita pada film. Secara keseluruhan, nilai saya untuk film ini adalah 6 dari 10.